Gue jarang-jarang ngerasa pengen ataupun bisa nulis review (baca: komentar amatiran) film secara panjang lebar, tapi gak tau kenapa kali ini kebelet banget menyuarakan opini. Bagi yang sudah pernah baca novelnya tapi belum nonton, Anda dinyatakan aman untuk menelusuri paragraf ini lebih lanjut.
Sebenernya gue udah lama baca buku 5 cm. itupun disponsori oleh sepupu gue di Malang. Which is, gue gak bisa membandingkan versi buku sama film, kecuali kalo gue niat banget dan beli bukunya. Jadi harap maklum tulisan ini berdasarkan ingatan lamat-lamat.
Secara keseluruhan, film 5 cm. sangat patuh pada alur novel. Gak ada yang ditambahin, gak ada yang diubah. Jadi buat yang sudah pernah baca novelnya, jangan harap menemui kejutan-kejutan di versi film. Kecuali scenery sepanjang perjalanan Mahameru yang gue akui sanggup bikin kita nahan napas saking cantiknya.
Tapi yang hampir selalu terjadi pada film adaptasi dari buku, memang ada beberapa bagian (yang gue lihat sebagai pendalaman karakter) yang di-take out karena satu dan lain hal. Bukan hal-hal yang major, tapi bukan sesuatu yang bisa dihiraukan juga.
Seperti kerja keras Genta (Fedi Nuril) dalam memimpin sebuah event, dimana ide out of the box-nya yang sempet diragukan, tapi karena persistensi dan keyakinannya yang kuat, akhirnya berakhir dengan sukses besar. Di film memang digambarkan gimana Genta terlibat dalam sebuah event bareng Riani (Raline Shah), kemudian jadi project leader yang keterima pitching dan disukai klien. Tapi gak jelas gimana dia bisa sampai kesana. Perjuangannya, stress-stressnya, masalah-masalah, dan gimana ngototnya mempertahankan idealisme.
Yang menurut gue cukup banyak dapat bagian itu Ian (Igor Saykoji), dari awal ngadep dospem, bikin bab 2 dalam 4 hari, data perusahaan yang gak boleh dipake dan harus ditarik kembali, kuesioner yang ternyata gak dikerjain, sampe akhirnya ditolongin sama orang yang baru kenal itu semua masuk ke film. (Btw, plis kasihtau gue itu siapa yang meranin mas-mas yang pinjem dongkrak. Saya adanya nomer telepon, mau gak mas? *apeu?)
Berikutnya, gue agak bingung sama kapan latar belakang waktu di film ini. Yang gue inget, si Zafran (Herjunot Ali) sudah menggunakan gadget terbaru masa kini; iPhone, either 4 or 4s yang diluncurkan di Indonesia pada akhir Oktober 2010. Tapi di adegan chatting sama Riani, dia masih pake MiRC. Really?? Do people still use MiRC these days?Udah gitu si Riani pake username ’MissYou_Gal’ segala. Buat orang seperti Riani di tahun 2012 seperti ini harusnya dia sadar betapa noraknya itu username. Kecuali kalau mau nurut sama bukunya, ya mbok diganti gadgetnya pake Nokia kek, yang lagi happening kala itu.
Kemudian, yang mencolok buat gue adalah kurangnya kualitas akting Fedi Nuril (saelah sok-sokan bener ngomentarin akting). Gue gak terlalu merhatiin yang lain ya, cuma yang paling mengganggu pandangan gue adalah si Fedi Nuril ini. Kalo kata iklan Starmild versi Obsesi Sutradara nih “Mata kamu tuh harus bicara!”. Itu yang gue gak temukan dari Fedi, matanya terlalu datar, kurang bersemangat dan gak memancarkan ekspresi apa-apa. Tapi, gue perlu angkat topi untuk dia waktu adegan berduaan sama Riani di Ranu Kumbolo. Kalo diperhatiin, selama ‘pidato’ pengungkapan cinta ke Riani, dia sama sekali nggak kedip! Seakan-akan gambaran wajah Riani yang ada di depannya saat itu terlalu berharga untuk dilewatkan barang sepersekian detik.
Tapi dibalik minor flaws yang gue yakin punya alasan cukup kuat tersebut, 5cm. menurut gue adalah salah satu aset buat perfilman Indonesia. Dan kalo berhasil go international, film ini bisa jadi jendela untuk orang-orang di luar sana (termasuk orang-orang di dalem sini yang gak pernah sadar potensi alam kita, termasuk gue) supaya mereka bisa liat gimana cantiknya Indonesia. Dan itu baru Semeru, sebagian kecil dari ribuan pemandangan alam Ibu Pertiwi yang lain.
Intinya, film ini more than what I’ve expected would come out of Rizal Mantovani’s hand. Sangat enjoyable dan beautifully done. Tonton di bioskop, gak usah nyari-nyari kesalahannya, nikmatin aja. Nanti kalo udah keluar DVD-nya, beli yang asli! Jangan cuma protes Indonesia filmnya jelek-jelek, tapi begitu ada film bagus carinya link free download. Hargain kerja keras orang-orang yang memang patut dihargai. Supaya mereka ada motivasi untuk bikin sesuatu yang lebih baik lagi dari ini :)